
Video Viral Gunung Anak Krakatau Meletus Hebat pada Malam Hari Ternyata Hoaks, Badan Geologi: Bukan Rekaman Erupsi Terbaru
MOHAK NEWS UPDATE – Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang diklaim memperlihatkan letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau pada malam hari. Video tersebut menampilkan semburan lava pijar, dentuman yang menggelegar, serta kolom abu vulkanik yang menjulang tinggi ke langit. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut menyebar luas di berbagai platform seperti Facebook, TikTok, Instagram, hingga WhatsApp, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Banyak warganet yang mengira video tersebut merupakan dokumentasi terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau. Bahkan, tidak sedikit yang membagikan ulang video itu disertai narasi yang menyebutkan bahwa telah terjadi letusan besar yang berpotensi membahayakan wilayah sekitar Selat Sunda.
Namun, setelah dilakukan verifikasi oleh pemerintah, informasi tersebut dipastikan tidak benar.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa video yang beredar bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada saat ini.
Kepala Badan Geologi, Dr. Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa video viral tersebut merupakan informasi yang menyesatkan karena tidak menggambarkan kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.
“Video yang beredar tersebut bukan merupakan dokumentasi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini,” tegas Muhammad Wafid dalam keterangan resminya.
Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan berbagai informasi yang beredar di media sosial yang telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Gunung Anak Krakatau Memang Mengalami Erupsi
Meskipun video viral tersebut dipastikan hoaks, Badan Geologi menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang masih menunjukkan aktivitas vulkanik.
Berdasarkan hasil pemantauan PVMBG, gunung api yang berada di Perairan Selat Sunda tersebut mengalami erupsi pada 2 Juli 2026 dan kembali tercatat mengalami aktivitas erupsi pada 3 Juli 2026. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari dinamika vulkanik yang terus dipantau secara intensif oleh petugas pengamatan gunung api.
Namun, visual yang beredar luas di media sosial tidak berasal dari erupsi tersebut. Video yang viral memiliki karakteristik yang berbeda dengan dokumentasi resmi PVMBG sehingga dipastikan bukan rekaman kejadian terbaru.
Hal ini menunjukkan pentingnya masyarakat untuk tidak langsung mempercayai video yang beredar tanpa mengetahui asal-usul maupun sumber informasinya.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III (Siaga)
Hingga saat ini, Badan Geologi menetapkan Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.
Dengan status tersebut, masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pihak lain diminta untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Rekomendasi tersebut diberikan sebagai langkah mitigasi untuk menghindari potensi bahaya akibat lontaran material vulkanik, abu vulkanik, maupun aktivitas erupsi yang sewaktu-waktu dapat meningkat.
PVMBG juga mengingatkan agar masyarakat selalu mengikuti perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi resmi yang diterbitkan pemerintah.
Waspadai Hoaks yang Memanfaatkan Isu Bencana
Perkembangan teknologi digital membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat. Sayangnya, kondisi tersebut juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi palsu, termasuk menggunakan video lama maupun konten hasil manipulasi yang diklaim sebagai kejadian terbaru.
Isu kebencanaan menjadi salah satu topik yang paling sering dimanfaatkan karena mampu menarik perhatian publik dalam waktu singkat. Padahal, informasi yang tidak benar dapat memicu kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan berpotensi menghambat upaya mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah.
Karena itu, masyarakat diminta untuk lebih teliti sebelum mempercayai maupun membagikan sebuah video atau informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Gunakan Sumber Resmi Sebagai Acuan
Badan Geologi menegaskan bahwa informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi pemerintah, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), MAGMA Indonesia, serta akun resmi Badan Geologi Kementerian ESDM.
Masyarakat diimbau untuk tidak menjadikan unggahan media sosial yang tidak memiliki sumber jelas sebagai acuan utama dalam memperoleh informasi mengenai aktivitas gunung api.
Dengan mengandalkan informasi resmi, masyarakat dapat memperoleh data yang akurat mengenai status gunung, perkembangan aktivitas vulkanik, hingga rekomendasi keselamatan yang harus dipatuhi.
Kasus video viral Gunung Anak Krakatau ini menjadi pengingat bahwa literasi digital memiliki peran penting di era informasi. Setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab untuk melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi kepada orang lain, sehingga penyebaran hoaks dapat diminimalkan.
Sumber Informasi:
- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
- MAGMA Indonesia.
